Senin, 09 April 2018

Pentas Liga 1 2018, Surga Sekaligus Neraka bagi Pemain Muda

Jakarta - Didorong PSSI, PT Liga Indonesia Baru (LIB) administrator kompetisi Liga Gojek Liga 1 bersama Bukalapak membuat terobosan berkaitan dengan pemain muda. Klub-klub kompetisi kasta elite diwajibkan mendaftarkan tujuh pemain U-23. Aturan baru ini memberi ruang besar bagi pesepak bola belia untuk unjuk gigi.

Aturan ini sudah mulai diterapkan sejak turnamen pramusim Piala Presiden 2018. Publik disuguhi atraksi menawan sejumlah young guns di sepanjang turnamen.
Syahrian Abimanyu (Sriwijaya FC/ 18 tahun), Frets Butuan (PSMS Medan/21 tahun), Rezaldi Hehanusa (Persija Jakarta/22 tahun), Martinus Novianto (Bali United/21 tahun), adalah deretan pemain muda yang memesona di turnamen pramusim.
Penampilan mereka memberi kesegaran. Publik sepak bola Tanah Air tak lagi dibuat bosan menyaksikan pemain itu-itu saja yang menghiasi kompetisi kasta tertinggi selama belasan tahun.
Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Boaz Solossa, Cristian Gonzales, Hamka Hamzah, Supardi Nasir, menjadi deretan pemain ikonik yang menghidupkan denyut persaingan kompetisi kita. Pada saat jayanya, mereka jadi pelanggan Timnas Indonesia. Kini perlahan mereka sudah dimakan usia.
Pencinta sepak bola nasional butuh figur-figur idola baru. Ini bisa mereka dapatkan dari pemain muda.
Jika melihat penampilan Timnas Indonesia U-23 dan U-19 di bawah komando Luis Milla dan Bima Sakti (sebelumnya Indra Sjafri), rasanya negara kita tidak kering pemain belia berbakat.
Evan Dimas, Ilham Udin Arymain, Septian David Maulana, Febri Haryadi, Saddil Ramdani, Hanis Saghara Putra, Feby Eka Putra, Asnawi Mangkualam Bahar, dan terakhir Egy Maulana Vikri, merupakan kumpulan pemain muda dengan bakat alam luar biasa. Mereka sudah jadi idola di usia bau kencur seiring penampilannya yang kinclong di Tim Garuda Muda.
Tapi jangan buru-buru senang dulu. Dibukanya keran buat pemain hijau berkiprah di Liga 1 2018 oleh pengelola kompetisi bukan lantas jadi jaminan bagi mereka bisa dapat jam terbang tinggi.
Pesimistis? Mungkin iya. Sejarah panjang kompetisi era Liga Indonesia menujukkan kalau kompetisi yang satu ini kuburan bagi pesepak bola muda. Hanya sedikit yang bisa bertahan.
Tidak ada kewajiban bagi klub memainkan pesepak bola muda jadi alasan saya agak skeptis. Walau diminta mendaftarkan nama-nama young guns oleh PT LIB, opsi menurunkan pesepak bola belia bergantung klub. Ada kemungkinan karier pemain muda terhambat, karena kering jam terbang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar